Acara JMC dimulai 3 Februari–19 April 2014. Selama mengikuti JMC, Afaf harus masuk karantina sekitar 2,5 bulan. Karena itu kami harus meminta izin dari sekolah. Untunglah sekolah ikut mendukung Afaf.

Saat kompetisi ini, selain syuting Afaf juga ikut homeschooling. Tugas-tugas dan ulangan harian sekolah tetap dikerjakan dan bisa dikirimkan ke sekolah. Tahap demi tahap dilalui Afaf selama kompetisi. Ia merasakan yang namanya persaingan dan ketegangan. Apalagi tingkat kesulitan menu yang harus dibuat semakin lama semakin kompleks.

Jenis masakan yang harus dibuatnya banyak sekali, mulai cupcakes, steak, nasi tumpeng komplet, dan lain-lain. Adakalanya kalau Afaf merasa tidak puas, ia keluar dari studio sambil menangis atau berwajah cemberut. Tapi saya yakin, secara tak langsung mental dan emosinya menjadi terlatih.”

Ingin Jadi Chef Internasional

“Tentu, selama mengikuti acara JMC banyak pengalaman yang Afaf dapatkan. Mulai ilmu memasak, mengenal sejarah kuliner, bersosialisasi dengan teman-teman barunya, dan sebagainya. Beruntung Afaf anak yang aktif, ceria, berhati lembut, dan mudah berteman sehingga selama menjalani semuanya, ia tidak menemui kendala.

Alhamdulillah, setelah melalui proses penyisihan berulang kali akhirnya Afaf memperoleh gelar juara pertama JMCI 2014. Ia mendapatkan hadiah tro­ , head chef dan uang sebesar Rp175 juta. Banyak kegiatan yang dilakukan Afaf seperti wawancara dengan media, undangan untuk acara–acara o­ air, dan sebagainya.

Karena itu Afaf harus bisa mengatur waktu antara sekolah dan syuting. Meski juara JMC sudah diraihnya, saya dan ayahnya tetap mementingkan pendidikan formal, sekaligus menekankan pendidikan agama. Tapi nantinya, kalau Afaf ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi sesuai kegemarannya ini, kami tetap mendukung. Semoga apa yang dicita-citakannya untuk menjadi seorang chef profesional yang punya restoran berbintang dapat tercapai.”

Afaf: “Memasak Memang Passion Saya”

“Ketertarikan saya pada kegiatan memasak berawal karena senang ngegangguin Mama dan Si Mbak di dapur. Lalu saya minta Mama mengikutkan saya kursus memasak. Di tempat kursus, saya diajarkan memasak semua jenis masakan Indonesia, masakan barat, termasuk kue-kue. Sekarang ini untuk sementara kursus masaknya berhenti dulu karena saya masih mengejar pelajaran sekolah yang tertinggal.

Saya juga sedang mencari kursus masak dengan tingkat advance untuk meningkatkan kemampuan saya. Saya beruntung bisa ikut JMC. Selain ditantang untuk menyajikan rasa yang enak, saya juga harus bisa mempresentasikannya, menjaga kebersihan saat masak dan selesai masak, serta bisa menjaga ketepatan waktu. Pokoknya banyak sekali ilmu yang saya dapat.”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *